
HUMBAHAS – Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Baringin Natam, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), untuk periode 2026–2034 mulai memasuki fase persaingan terbuka.
Sebanyak empat kandidat disebut ikut dalam kontestasi tersebut. Masing-masing calon membawa latar belakang, jaringan sosial, serta gagasan pembangunan yang berbeda.
Di tengah proses sosialisasi dan penggalangan dukungan, rekam jejak pengelolaan pemerintahan desa menjadi salah satu isu yang turut diperbincangkan masyarakat.
Salah seorang kandidat bahkan kembali dikaitkan dengan persoalan temuan dalam pengelolaan keuangan desa saat yang bersangkutan pernah menjabat sebagai kepala desa pada periode 2013–2017.
Berdasarkan informasi yang berkembang di tengah masyarakat, terdapat temuan terkait pengelolaan keuangan desa yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengembalian sejumlah dana kepada pihak Inspektorat.

Namun demikian, substansi, nilai, serta status administratif dari temuan tersebut masih perlu merujuk pada dokumen resmi dan keterangan pihak berwenang agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Isu tersebut kembali menjadi perhatian karena kandidat yang bersangkutan kini kembali mengikuti kontestasi Pilkades. Sejumlah warga menilai rekam jejak dalam pengelolaan keuangan publik merupakan hal yang patut menjadi bahan pertimbangan masyarakat, mengingat kepala desa memiliki tanggung jawab dalam mengelola anggaran serta menjalankan pemerintahan desa.
Selain persoalan yang dikaitkan dengan pengelolaan keuangan desa, beredar pula informasi mengenai persoalan yang disebut berkaitan dengan pengelolaan keuangan jemaat gereja.
Informasi tersebut hingga kini masih memerlukan konfirmasi dan dokumen pendukung dari pihak-pihak terkait. Karena itu, informasi tersebut belum dapat diposisikan sebagai fakta hukum sebelum terdapat penjelasan atau dokumen resmi yang dapat diverifikasi.
Johanes Sitohang Pilih Tak Serang Kandidat Lain
Sementara itu, Johanes Sitohang, salah satu kandidat dalam kontestasi Pilkades Baringin Natam, memilih untuk tidak menyerang atau mengomentari rekam jejak kandidat lainnya.
Johanes menyatakan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menilai setiap calon berdasarkan rekam jejak, program, serta kemampuan masing-masing.
Ia juga mengajak seluruh pihak menjaga proses pemilihan agar berlangsung aman, tertib, dan demokratis.
Menurut Johanes, Pilkades bukan sekadar kompetisi untuk memperoleh jabatan, tetapi merupakan momentum penting dalam menentukan arah pembangunan Desa Baringin Natam untuk beberapa tahun ke depan.
“Saya tidak ingin mengomentari jejak calon lain. Biarlah masyarakat yang menilai. Saya berharap pemilihan kepala desa berjalan aman, lancar dan sukses karena ini merupakan kepentingan kita bersama,” ujar Johanes.
Johanes juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan dukungan kepadanya.
Jika memperoleh kepercayaan masyarakat, ia menyatakan komitmennya untuk membangun desa melalui kolaborasi dengan pemerintah kabupaten, masyarakat perantauan, serta desa-desa di sekitar Baringin Natam.
Dukungan Masyarakat dan Perantauan
Dukungan terhadap Johanes Sitohang disebut terus berkembang, termasuk dari masyarakat Hutagodang, Lumban Sihombing, Lumban Simanullang, serta masyarakat Desa Baringin Natam secara keseluruhan.
Dukungan juga datang dari masyarakat perantauan, khususnya warga asal Baringin Natam yang berada di luar daerah.
Salah satu putra Desa Baringin Natam, Dr. Timbo Eriko Silaban, yang disebut sebagai Koordinator Tenaga Ahli Fraksi NasDem di Jakarta, turut memberikan perhatian terhadap pembangunan Baringin Natam.
Dukungan tersebut disebut diwujudkan melalui perhatian dan sumbangsih terhadap sejumlah kebutuhan pembangunan, termasuk infrastruktur jalan dan bantuan beasiswa pendidikan melalui aspirasi Partai NasDem.
Keterlibatan masyarakat perantauan dinilai dapat menjadi salah satu modal sosial dalam mendukung pembangunan desa. Sinergi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, masyarakat, tokoh masyarakat, dan para perantau dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam sektor infrastruktur dan pendidikan.
Dalihan Natolu sebagai Landasan Kebersamaan
Johanes juga menegaskan pentingnya nilai Dalihan Natolu sebagai salah satu landasan kehidupan sosial masyarakat Batak.
Menurutnya, nilai tersebut dapat menjadi pijakan dalam membangun kebersamaan, menjaga hubungan antarkelompok, serta merawat persatuan masyarakat di tengah perbedaan pilihan politik dalam kontestasi Pilkades.
“Perbedaan pilihan merupakan hal yang biasa dalam sebuah pemilihan. Yang terpenting, setelah proses pemilihan selesai, masyarakat tetap bersatu dan bersama-sama membangun desa,” demikian semangat yang disampaikan dalam gagasan tersebut.
Pilkades Baringin Natam kini memasuki tahapan yang menuntut setiap kandidat menyampaikan program dan gagasannya secara terbuka. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki ruang untuk menelusuri rekam jejak setiap calon sebelum menentukan pilihan.
Termasuk dalam hal informasi mengenai dugaan persoalan keuangan maupun persoalan sosial, masyarakat diharapkan memperoleh informasi yang memiliki dasar jelas dan dapat diverifikasi.
Pada akhirnya, kualitas kontestasi Pilkades tidak hanya ditentukan oleh banyaknya dukungan yang berhasil dihimpun masing-masing kandidat.
Transparansi, akuntabilitas, rekam jejak, integritas, serta program pembangunan menjadi sejumlah aspek yang dapat menjadi bahan pertimbangan masyarakat dalam menentukan pilihan untuk masa depan Desa Baringin Natam. ( rell )






Tinggalkan Balasan